Minggu, 03 Januari 2016

Angin Tidak Akan Pernah Menggoyahkan Pijakanku

“Oper kali, opeer dong, jangan rakussss...!!!”, teriak Maman ketika melihat tayangan televisinya. Suasana malam sarat dengan emosi, kegelisahan dan sedikit kemarahan. Saat ini Maman sedang menonton pertandingan liga Inggris antara Manchester City dengan Manchester United dengan begitu seriusnya. Jersey berwarna biru bertuliskan Aguero pada bagian pundak dikenakan Maman, ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula dan 4 buah pisang goreng disebelahnya, Maman duduk bersila di lantai dengan sesekali meloncat ketika terjadi kemelut di mulut gawang Manchester United. Skor pertandingan menunjukan 2-1 untuk keunggulan Manchester United dan waktu pertandingan normal sudah hampir selesai. Maman semakin gelisah dan frustasi melihat performa dari tim kesayangannya tersebut. “Sedikit lagi nak, kamu tahan ya sedikit lagi selesai kok pertandingannya”, seru Maman sembari menoleh kearah loteng rumahnya. Rumah Maman tidak terlalu besar dengan luas tanah 60 meter persegi. Maman menempati rumahnya bersama dengan istri serta 1 anaknya yang bernama Somin. Somin adalah anak laki – laki berusia 6 tahun, berambut tipis berwarna coklat kekuning – kuningan, berkulit hitam. Somin mudah sekali terserang rasa letih dan lesu terutama di pagi hari khususnya pada hari Minggu ataupun hari Senin. Tidak seperti anak kecil pada umumnya, Somin mempunyai lengan kanan yang cukup kekar dan berotot serta paha yang berbentuk layaknya atlit sepeda profesional. Pagi harinya Maman mengajak Somin dan Isma istrinya untuk mencari sarapan bubur di tempat langganan mereka. “Tin tinn tinnnn..”, suara klakson motor matik Maman dengan maksud mengajak Isma dan Somin bergerak lebih cepat. “Cepetan dong tong, etdah bujug lama banget dah geraknya !!”, seru Maman yang semakin tidak sabar menunggu Isma dan Somin. “Somin, ayo biasa elu duduknye di tengah ye, jadi Emak lu yang di belakang duduknye!”, pinta Maman kepada Somin anak kesayangannya. Motor Maman bergerak menuju tukang bubur langganan mereka. Untuk dapat sampai ke tukang bubur tersebut, Maman harus menempuh jarak sekitar 460 meter. Dimulai dari keluar kampung menuju jalan besar sekitar 60 meter dan 400 meter jalur lurus dari jalan besar menuju tukang bubur tersebut. “Pulangnya aja ya nak, kita isi tenaga dulu lagipula Babeh udah laper banget ni Min”, kata Maman kepada Somin. Somin mengangguk kepada permintaan Bapaknya tersebut. Singkat cerita, Maman beserta keluarga telah selesai menyantap bubur mereka dan hendak kembali ke rumah mereka. “Somin, kamu siap siap ya”, pinta Isma sang Ibunda kepada Somin. Somin kembali duduk di tengah dari jok motor matik Maman. Sekarang Maman mulai menyalakan dan mengarahkan motornya ke arah jalan raya besar tersebut. Maman memacu motor nya dengan cukup kencang. Angka kecepatan di speedometer menunjukan angka 80km/ jam. Sesekali Maman menganggukan kepalanya sebagai tanda puas akan situasi yang di dapatnya. “Sekarang Min..!!”, teriak Maman kepada Somin. Segera Somin yang duduk di tengah jok motor langsung berdiri tegap melawan kuat dan kencangnya tiupan angin yang datang dari arah berlawanan. Rambut tipis kuning Somin mulai tertiup angin dan menjadi tidak beraturan. Somin mulai memicingkan matanya menghindari debu ataupun kotoran yang dapat masuk kedalam matanya. Isma pun tidak kalah sibuk, tangannya memegang erat pinggul Somin dengan maksud agar Somin dapat terus berdiri tegak di motor yang berjalan dengan kecepatan kencang tersebut. Senyum puas merekah pada wajah Maman melihat kemampuan Somin yang meningkat. Isma pun demikian bangganya akan keberanian Somin menyelesaikan tantangan Maman tersebut. Akhirnya tibalah mereka di rumah Maman. Wajah Somin tebal dengan debu, mata Somin mulai memerah dan rambut Somin tertata kearah belakang seperti rambut model tahun 1980 an yang disisir kebelakang menggunakan hair spray botol berwarna merah muda. “Somin, ayo siap siap waktunya sebentar lagi!!!”, seru Maman kepada Somin yang saat ini sedang asik membaca tabloid sepakbola yang pagi tadi dibeli oleh Maman. Maman mulai menyalakan televisinya. Televisi tersebut masih berbentuk model tabung, berwarna hitam dan berukuran sekitar 20 inch. Tayangan pada televisi tersebut terlihat samar – samar dan bergelombang layaknya ombak di pantai Carita. Somin mengambil botol minumnya dan diletakannya ke dalam kantung celana pendeknya. Tatapan mata Somin dipenuhi dengan tingkat determinasi yang tinggi dan rasa percaya diri yang besar. Layaknya seorang Gladiator memasuki arena colloseum dimana hanya ada cerita hidup atau mati setelah itu. “Belom Min, lu geser lagi Min, dikit lagi Min, nahh pas udah Min, udah bagusss...!!!”, teriak Maman kepada Somin yang saat ini tidak terlihat berada di lantai yang sama dengan Maman. Hari Sabtu itu Maman kembali menghabiskan waktu malamnya untuk berada di rumah saja tanpa berencana keluar rumah dan menggunakan keuntungan berjualan pisang goreng demi kesenangan sementara. Hembusan angin begitu kuat di malam itu. Bintang bercahaya indahnya menemani bulan yang setia menyinari bumi. Malam itu suasana terasa begitu sendu dan bisu. Berdiri tegar Somin seorang diri disana, matanya memandang bintang di angkasa, kakinya membentuk posisi kuda – kuda layaknya petarung yang hendak melancarkan pukulan andalannya. Tangan kanan Somin terangkat tinggi seperti menunjuk angkasa, sepi sendiri Somin hanya ditemani kesunyian dan keacuhan malam. “Ahh si Toure ini egois banget sih jadi pemain, kosong itu Bony nya kenapa ga di oper sih bolanya!” gerutu Maman. Lelah sudah hampir 40 menit Somin berdiri sendiri hanya ditemani sunyinya malam. Somin ingin sekali menyembunyikan wajahnya dari serbuan hembusan angin yang semakin kencang dan agresif, lelah dirasa Somin yang terus mengangkat tangan kanannya. Setiap kali Somin merasa lelah dan hendak menyerah terhadap keadaan tersebut, Somin teringat perjalanan naik motor menuju tukang bubur langganan mereka. “Tidak, aku pasti kuat!!”, guman Somin. “Aku dilatih keras oleh Babeh dan Emak untuk tugas ini, aku tidak akan pernah menyerah!!!”. Teriak Somin sembari memegang erat antena televisi pada tangan kanannya.

Selasa, 24 Agustus 2010

Mobile Connectivity

    Interaksi manusia adalah hakiki sifatnya, hampir mustahil orang dapat hidup tanpa interaksi dengan sesama. Dulu kita kenal hieroglif, bentuk semiotika komunikasi masyarakat era purba, sekarang itu bertransformasi dengan adanya perubahan tekhnologi. Konektifitas bertambah bentuk tidak hanya dalam bentuk tatap muka, dahulu kita kenal metode surat – menyurat baik dengan merpati sebagai medianya hingga pelayanan via pos. Faktor perubahan tehknologi memaksa bentuk – bentuk komunisan non lisan tersebut merubah pakemnya. Hermawan Kartajaya pun memasukkan variable Change, dalam lanskap bisnis manajemen.

    Adalah Puri, temen smp saya yang hari ini mengilhami topik dari pembahasan saya ini. Sebagai seorang entrepreneur, dia mampu mengakomodasikan kebutuhan bisnisnya dengan pemanfaatan media online istilah kerennya e-commerce. Via blog, twitter, facebook, Puri berhasil membentuk awareness awan terhadap produk jualannya. Low budget high impact meminjam istilah Hermawan Kartajaya kembali. Sesuai ramalan Thomas Friedman dalam The World is Flat, inilah bentuk konvergensi terbaru interaksi manusia, the world is borderless begitu intinya. Mau ada dimana dimana pun bisa ter – konek dengan mudah selama akses teknologi terapresiasi dengan baik.

    Si Puri ini, lagi – lagi bikin iri saya, kena exposure media dan gratis pulak. Sungguh irritating sekali. Eits jangan berprasangka buruk terlebih dahulu, bentuk kompetisi adalah wajib karena dengan kompetisi kita akan berlomba – lomba untuk mencapai maximum level effort kita. Nah, hal yang bisa saya petik adalah bahwa di depan mata saya sendiri ( meskipun lewat televisi sih liatnya ), ada bentuk nyata keberhasilan dari mobile connectivity. Dan teman saya Puri adalah smart person yang pinter mengakutalisasikan strategi bisnis nya melalui mobile connectivity. Dia dan saya juga tidak mau kalah tentunya adalah bagian dari Long Tail nya Chris Andersen. We are micro seller through mass media ( e-commerce ) connectivity.

    

Pedestrian Foodcourt

Now a days, we must chase fund for a better living. We are not living on ice age century, or flinstone era where daily needs such as food, clothes, or a shelter can be get by free, and also not become some symbol or attribute for justifying someone success in life. Hard to imagine that people wouldn’t risk in their life for chasing this material or paper named “money”. Needs depends on every single person, the needs is a summary that generate from what people got in life.
Eating definitely major needs in life, without food we will get suffer, selling eating service by providing a restaurant, catering, or café, has two great meaning, first money come in, second needs fulfill majorly. Today pavement road has malfunction, not only become pathway for street footer, also changing into a place where people gathered collecting money by selling food. It has big impact when we see it largely, the road getting hectic, traffic jam is the result. When traffic jam hit us, again the earth got cheated once again. How is that? traffic jam require more fuel on every single road machinery, more fuel boosting us digging inside the earth stomach massively. And the result, we donate the devastating of the earth itself.
Hard to imagine but pedestrian foodcourt can consider as one of many aspects that ruin this world directly.

Senin, 23 Agustus 2010

One Man Show for Traffic Jam


One Man Show For Traffic Jam

          Jakarta sebagai ibukota Negara dan salah satu pusat perekonomian dunia banyak menyimpan berjuta problematika. Terkait dengan peranan Jakarta sebagai pilar perekonomian Indonesia, masalah kemacetan seringkali mencoreng kredibilitas serta kapabilitas Jakarta. Sarana infrastruktur seharusnya sudah cukup memadai dengan begitu banyaknya laju mobilitas kota Jakarta. Namun salah dimana sehingga kemacetan tak lain dapat disandingkan sebagai atribut permanen kota Jakarta.

Kuantitas Kendaraan
          Tahun pertahun, laju pertumbuhan kendaraan di kota Jakarta terus meningkat, mulai dari kendaraan roda dua yang semakin menyemut hingga pertambahan kendaraan roda empat yang masih banyak menjadi impian kaum middle class sebagai bentuk apresiasi diri terhadap diri sendiri ataupun aktualisasi diri terhadap lingkungan.
Buat saya akan salah kaprah ketika kebijakan yang diambil untuk mengatasi kemacetan adalah dengan memperluas dan memperbesar bahu jalan, itu hanya akan menjadi trigger untuk semakin menumpuknya kendaraan di tanah Ibu Pertiwi ini.
Kajian saya lebih menitikberatkan kepada bentuk social attitude masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta sebagai kaum metropolitan serta urban social.
         
Satu Mobil untuk Satu Orang
          Inilah realitas yang saya sering tangkap ketika ikut menjadi korban keganasan kemacetan Jakarta, banyak mobil tersebut hanya dihuni oleh satu pengendara. Bukankah lagi – lagi itu bentuk egosentris masyarakat urban yang cenderung semakin meninggalkan nilai sosial. Karakter individualis semakin menyembul tinggi ke permukaan menurut hemat saya. Terlepas dari buruknya sistem transportasi massal kita, bukankah social needs seharusnya lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan hasrat individu kita.

Mobil – Status Sosial
          Maslow hierarcy  mencatat bahwa self-esteem seseorang adalah tingkatan tertinggi dari pucuk piramida kebutuhan seseorang. Pergeseran nilai budaya masyarakat yang semakin individualis dan butuh pengaktulalisasian diri dari lingkungan sedikit banyak memberi andil dalam terciptanya kemacetan kota Jakarta dan tentunya faktor lain seperti sudah dijelaskan minimnya public transportation, minimnya infrastruktur, hingga berjamurnya street food vendor. Saya mengamati jarang sekali ada seseorang dengan level managerial status baik di suatu perusahaan yang tidak berkeinginan untuk tidak membawa mobil pribadi. Citra diri adalah penting, citra perusahaan juga penting namun menurut saya tidak ada salahnya semua itu dikorbankan untuk bumi yang kita diami ini. Al Gore sudah memberikan gambaran tersebut dalam “Inconvenience Truth”.
          Apakah terjadi disposisi terhadap cara pandang kita terhadap individu lain, apakah parameter keberhasilan seseorang diukur salah satu nya melalui kendaraan apa yang digunakan, apakah memang budaya self-sentris semakin melekat pada kaum metropolis, dan terakhir apakah kita semua sudah lupa akan keseimbangan alam tempat kita bernafas.