Senin, 23 Agustus 2010

One Man Show for Traffic Jam


One Man Show For Traffic Jam

          Jakarta sebagai ibukota Negara dan salah satu pusat perekonomian dunia banyak menyimpan berjuta problematika. Terkait dengan peranan Jakarta sebagai pilar perekonomian Indonesia, masalah kemacetan seringkali mencoreng kredibilitas serta kapabilitas Jakarta. Sarana infrastruktur seharusnya sudah cukup memadai dengan begitu banyaknya laju mobilitas kota Jakarta. Namun salah dimana sehingga kemacetan tak lain dapat disandingkan sebagai atribut permanen kota Jakarta.

Kuantitas Kendaraan
          Tahun pertahun, laju pertumbuhan kendaraan di kota Jakarta terus meningkat, mulai dari kendaraan roda dua yang semakin menyemut hingga pertambahan kendaraan roda empat yang masih banyak menjadi impian kaum middle class sebagai bentuk apresiasi diri terhadap diri sendiri ataupun aktualisasi diri terhadap lingkungan.
Buat saya akan salah kaprah ketika kebijakan yang diambil untuk mengatasi kemacetan adalah dengan memperluas dan memperbesar bahu jalan, itu hanya akan menjadi trigger untuk semakin menumpuknya kendaraan di tanah Ibu Pertiwi ini.
Kajian saya lebih menitikberatkan kepada bentuk social attitude masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta sebagai kaum metropolitan serta urban social.
         
Satu Mobil untuk Satu Orang
          Inilah realitas yang saya sering tangkap ketika ikut menjadi korban keganasan kemacetan Jakarta, banyak mobil tersebut hanya dihuni oleh satu pengendara. Bukankah lagi – lagi itu bentuk egosentris masyarakat urban yang cenderung semakin meninggalkan nilai sosial. Karakter individualis semakin menyembul tinggi ke permukaan menurut hemat saya. Terlepas dari buruknya sistem transportasi massal kita, bukankah social needs seharusnya lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan hasrat individu kita.

Mobil – Status Sosial
          Maslow hierarcy  mencatat bahwa self-esteem seseorang adalah tingkatan tertinggi dari pucuk piramida kebutuhan seseorang. Pergeseran nilai budaya masyarakat yang semakin individualis dan butuh pengaktulalisasian diri dari lingkungan sedikit banyak memberi andil dalam terciptanya kemacetan kota Jakarta dan tentunya faktor lain seperti sudah dijelaskan minimnya public transportation, minimnya infrastruktur, hingga berjamurnya street food vendor. Saya mengamati jarang sekali ada seseorang dengan level managerial status baik di suatu perusahaan yang tidak berkeinginan untuk tidak membawa mobil pribadi. Citra diri adalah penting, citra perusahaan juga penting namun menurut saya tidak ada salahnya semua itu dikorbankan untuk bumi yang kita diami ini. Al Gore sudah memberikan gambaran tersebut dalam “Inconvenience Truth”.
          Apakah terjadi disposisi terhadap cara pandang kita terhadap individu lain, apakah parameter keberhasilan seseorang diukur salah satu nya melalui kendaraan apa yang digunakan, apakah memang budaya self-sentris semakin melekat pada kaum metropolis, dan terakhir apakah kita semua sudah lupa akan keseimbangan alam tempat kita bernafas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar