Selasa, 24 Agustus 2010

Mobile Connectivity

    Interaksi manusia adalah hakiki sifatnya, hampir mustahil orang dapat hidup tanpa interaksi dengan sesama. Dulu kita kenal hieroglif, bentuk semiotika komunikasi masyarakat era purba, sekarang itu bertransformasi dengan adanya perubahan tekhnologi. Konektifitas bertambah bentuk tidak hanya dalam bentuk tatap muka, dahulu kita kenal metode surat – menyurat baik dengan merpati sebagai medianya hingga pelayanan via pos. Faktor perubahan tehknologi memaksa bentuk – bentuk komunisan non lisan tersebut merubah pakemnya. Hermawan Kartajaya pun memasukkan variable Change, dalam lanskap bisnis manajemen.

    Adalah Puri, temen smp saya yang hari ini mengilhami topik dari pembahasan saya ini. Sebagai seorang entrepreneur, dia mampu mengakomodasikan kebutuhan bisnisnya dengan pemanfaatan media online istilah kerennya e-commerce. Via blog, twitter, facebook, Puri berhasil membentuk awareness awan terhadap produk jualannya. Low budget high impact meminjam istilah Hermawan Kartajaya kembali. Sesuai ramalan Thomas Friedman dalam The World is Flat, inilah bentuk konvergensi terbaru interaksi manusia, the world is borderless begitu intinya. Mau ada dimana dimana pun bisa ter – konek dengan mudah selama akses teknologi terapresiasi dengan baik.

    Si Puri ini, lagi – lagi bikin iri saya, kena exposure media dan gratis pulak. Sungguh irritating sekali. Eits jangan berprasangka buruk terlebih dahulu, bentuk kompetisi adalah wajib karena dengan kompetisi kita akan berlomba – lomba untuk mencapai maximum level effort kita. Nah, hal yang bisa saya petik adalah bahwa di depan mata saya sendiri ( meskipun lewat televisi sih liatnya ), ada bentuk nyata keberhasilan dari mobile connectivity. Dan teman saya Puri adalah smart person yang pinter mengakutalisasikan strategi bisnis nya melalui mobile connectivity. Dia dan saya juga tidak mau kalah tentunya adalah bagian dari Long Tail nya Chris Andersen. We are micro seller through mass media ( e-commerce ) connectivity.

    

Pedestrian Foodcourt

Now a days, we must chase fund for a better living. We are not living on ice age century, or flinstone era where daily needs such as food, clothes, or a shelter can be get by free, and also not become some symbol or attribute for justifying someone success in life. Hard to imagine that people wouldn’t risk in their life for chasing this material or paper named “money”. Needs depends on every single person, the needs is a summary that generate from what people got in life.
Eating definitely major needs in life, without food we will get suffer, selling eating service by providing a restaurant, catering, or café, has two great meaning, first money come in, second needs fulfill majorly. Today pavement road has malfunction, not only become pathway for street footer, also changing into a place where people gathered collecting money by selling food. It has big impact when we see it largely, the road getting hectic, traffic jam is the result. When traffic jam hit us, again the earth got cheated once again. How is that? traffic jam require more fuel on every single road machinery, more fuel boosting us digging inside the earth stomach massively. And the result, we donate the devastating of the earth itself.
Hard to imagine but pedestrian foodcourt can consider as one of many aspects that ruin this world directly.

Senin, 23 Agustus 2010

One Man Show for Traffic Jam


One Man Show For Traffic Jam

          Jakarta sebagai ibukota Negara dan salah satu pusat perekonomian dunia banyak menyimpan berjuta problematika. Terkait dengan peranan Jakarta sebagai pilar perekonomian Indonesia, masalah kemacetan seringkali mencoreng kredibilitas serta kapabilitas Jakarta. Sarana infrastruktur seharusnya sudah cukup memadai dengan begitu banyaknya laju mobilitas kota Jakarta. Namun salah dimana sehingga kemacetan tak lain dapat disandingkan sebagai atribut permanen kota Jakarta.

Kuantitas Kendaraan
          Tahun pertahun, laju pertumbuhan kendaraan di kota Jakarta terus meningkat, mulai dari kendaraan roda dua yang semakin menyemut hingga pertambahan kendaraan roda empat yang masih banyak menjadi impian kaum middle class sebagai bentuk apresiasi diri terhadap diri sendiri ataupun aktualisasi diri terhadap lingkungan.
Buat saya akan salah kaprah ketika kebijakan yang diambil untuk mengatasi kemacetan adalah dengan memperluas dan memperbesar bahu jalan, itu hanya akan menjadi trigger untuk semakin menumpuknya kendaraan di tanah Ibu Pertiwi ini.
Kajian saya lebih menitikberatkan kepada bentuk social attitude masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta sebagai kaum metropolitan serta urban social.
         
Satu Mobil untuk Satu Orang
          Inilah realitas yang saya sering tangkap ketika ikut menjadi korban keganasan kemacetan Jakarta, banyak mobil tersebut hanya dihuni oleh satu pengendara. Bukankah lagi – lagi itu bentuk egosentris masyarakat urban yang cenderung semakin meninggalkan nilai sosial. Karakter individualis semakin menyembul tinggi ke permukaan menurut hemat saya. Terlepas dari buruknya sistem transportasi massal kita, bukankah social needs seharusnya lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan hasrat individu kita.

Mobil – Status Sosial
          Maslow hierarcy  mencatat bahwa self-esteem seseorang adalah tingkatan tertinggi dari pucuk piramida kebutuhan seseorang. Pergeseran nilai budaya masyarakat yang semakin individualis dan butuh pengaktulalisasian diri dari lingkungan sedikit banyak memberi andil dalam terciptanya kemacetan kota Jakarta dan tentunya faktor lain seperti sudah dijelaskan minimnya public transportation, minimnya infrastruktur, hingga berjamurnya street food vendor. Saya mengamati jarang sekali ada seseorang dengan level managerial status baik di suatu perusahaan yang tidak berkeinginan untuk tidak membawa mobil pribadi. Citra diri adalah penting, citra perusahaan juga penting namun menurut saya tidak ada salahnya semua itu dikorbankan untuk bumi yang kita diami ini. Al Gore sudah memberikan gambaran tersebut dalam “Inconvenience Truth”.
          Apakah terjadi disposisi terhadap cara pandang kita terhadap individu lain, apakah parameter keberhasilan seseorang diukur salah satu nya melalui kendaraan apa yang digunakan, apakah memang budaya self-sentris semakin melekat pada kaum metropolis, dan terakhir apakah kita semua sudah lupa akan keseimbangan alam tempat kita bernafas.